FESTIVAL MALAM PASANG LAMPU. Warga di Gorontalo
menyalakan lampu yang disebut Tumbilohote untuk merayakan ibadah puasa
yang akan segera berakhir. Foto oleh Rosyid/Rappler
GORONTALO, Indonesia - Perayaan Idul
Fitri tinggal menghitung hari. Di Gorontalo, warga memiliki tradisi
khusus untuk menyambut perayaan Lebaran yakni “Tumbilotohe”.
Dalam Bahasa Gorontalo, tumbilo bermakna pasang dan tohe adalah lampu. Maka, dapat diartikan Tumbilotohe yakni malam pasang lampu. Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak abad ke-15.
“Tumbilotohe
dimulai jelang malam, usai salat Magrib hingga menjelang subuh,” ujar
salah satu warga Gorontalo, Hasrul Eka Putra yang ditemui Rappler pada
Sabtu, 2 Juli.
Di area Bolaang Mongondow (Bolmong),
tradisi itu diberi nama “Monuntul” yang berasal dari kata “tuntul” yang
berarti alat penerangan. Jika dibandingkan dengan “Tumbilotohe”, maka
tradisi di kedua tempat itu memiliki makna serupa.
Tradisi malam pasang lampu ini dilakukan selama 3 malam berturut-turut dan akan berakhir saat malam takbir.
“Monuntul berarti memberi penerangan.
Selain untuk menyambut perayaan hari kemenangan, tradisi itu juga
sebagai bentuk penghargaan kepada orang-orang yang sudah berpuasa,” kata
seorang budayawan di Bolmong, Chairun Mokoginta.
KONSEP RAMAH LINGKUNGAN
TUMBILOTOHE RAMAH LINGKUNGAN. Salah satu lampu di
festival Tumbilotohe yang menggunakan bahan ramah lingkungan seperti
kerang bekas. Foto oleh Christopel Paino/Rappler
Sementara, di Gorontalo, pemerintah
daerah bekerja sama dengan Forum Komunitas Hijau (FKH) Gorontalo. Mereka
kemudian pernah membuat Festival Tumbilotohe.
Festival itu berisi partisipasi setiap
desa dan kelurahan untuk membuat tumbilotohe terindah, paling kreatif
dan ramah lingkungan. Biasanya, warga menggunakan membuat lampu
penerangan dengan bahan bakar minyak tanah. Tetapi, sejak tahun 2012
lalu, pemda menyarankan agar warga menggunakan listrik, karena harga
minyak tanah yang ketika itu membumbung tinggi.
Namun, FKH mengaku ingin membuat sesuatu
yang berbeda. Maka sejak penyelenggaraan festival tahun lalu, FKH
mengajak warga untuk membuat tumbilotohe dengan bahan bakar yang ramah
lingkungan.
Perwakilan dari FKH menyebut, penggunaan
minyak tanah sebagai bahan bakar mahal dan menyebabkan polusi.
Sementara, listrik merupakan pemborosan energi.
“Maka sejak tahun kemarin, kami membuat
green tumbilotohe. Bahannya selain mudah didapat, juga bisa didaur
ulang. Bahan-bahan itu bisa diperoleh dari alam,” kata Awaludin.
Sementara, di tahun ini, panitia
mengumpulkan semua lampu yang sudah dibuat saat festival tahun lalu.
Lampu itu dikumpulkan di Taman Moodu, Kota Gorontalo.
Lampu-lampu itu kemudian disusun dan
dipamerkan kepada pengunjung. Tumbilotohe yang ramah lingkungan, kata
Awaludin dibuat dari bahan kulit kimia atau kerang raksasa. Bisa juga
lampu itu dibuat dari bambu, pepaya, kelapa dan buah maja.
“Bahan bakarnya diambil dari getah pohon damar, minyak kelapa yang dicampur air, ethanol hingga minyak nilam,” kata dia.
Sementara di Bolmong, tradisi malam
pasang lampu mereka dihidupkan dari pemanfaatan limbah plastik dan kaca
seperti lampu dari bekas botol air mineral dan minuman energi.
“Ribuan botol kaca dan plastik
dikumpulkan. Kemudian, diberi sumbu lalu dirangkai di tanah lapang. Di
tengah-tengah dibuat miniatur masjid berbahan bambu dan janur kuning,”
ujar Kepala Desa Passi di Bomong, Delianto Bengga.
Ketika malam tiba, maka akan terlihat sangat indah.
Baik tradisi Tumbilotohe dan Monuntul
sudah dilakukan setiap tahun. Selain menjadi objek pariwisata, tradisi
itu menjadi kearifan lokal dan pengerat warga untuk bekerja sama di
penghujung Ramadan. - Rappler.com
0 komentar:
Posting Komentar